J a r a k

Pada secarik kertas yang kau tinggalkan di buku catatanku sesaat sebelum kau meninggalkanku di kota itu, kau berkata, bahwa pertemuan dan perpisahan akan menjadi hal yang biasa bagi kita. Jarak bukanlah hal yang besar untuk kita. 

Namun, kenapa sekarang menyerah, Tuan? 


Kalau dulu sebelum bertemu kamu aku bisa bahagia, seharusnya setelah kamu tidak disini lagi, aku masih bisa bahagia. Sebab aku pernah tanpamu. 
Ya seharusnya sih seperti itu. 

23/11/2018

Selamat ulang tahun, Papa


"Kak, ayok sholat."
"Kak, sini baca Al-qur'an sama Papa."
"Jangan tidur nanti di sekolah ya, Kak."
"Dulu waktu Papa SMA…"
"Dulu waktu Papa masih kecil…"
"Kak, ikut Papa main golf yuk, nanti kita makan indomie sama es teh siap itu, gak usah kasih tau Mama."
"Papa pergi kerja ya, Nak."
"Papa pulang…"
"Jangan dekat kali nonton tv nya, Kak."
"Anggap sholat itu kebutuhan Kakak, ya. Kalo kebutuhan, pas nggak dipenuhi, pasti rasanya ada yang kurang kan."
"Ambilin air minum Papa, Kak, hangat ya."
"Jengkol itu enak loh, Kak."
"Lebihin uang parkirnya, Kak."
"Kak, beli jualan nenek itu, lah."
"Kakak turun bentar di supermarket ya, beliin lasegar Papa. Sekalian kalo kakak mau beli jajan."
"Nanti Papa yang jemput ya, Kak."
"Kak, ayok spot." (maksudnya sport-olahraga)
"Papa sekarang lagi belajar Bahasa Inggris, Kak. Susah ternyata belajar pas udah tua gini ya. Nanti kakak yang rajin ya belajar bahasanya, biar lancar ngomong inggrisnya kayak bule-bule."

And today is your birthday, Pa. I'm recalling some memories with you as now I won't share any more memories with you again.

I miss you. I will always do.

20 0ktober 2018
Beberapa saat ke depan, akan banyak pagi-pagi yang mengharuskan aku untuk memaksa diri beranjak dan bangun menghadapi perasaan yang semakin hari semakin berat. 
Aku sadar bahwa melupakanmu cukup melelahkan. 

Kita yang Sedang Mencoba Mengerti Dunia

Bagaimana jika dunia ini ternyata tidak seperti yang kita harapkan?
Tidak seperti yang kita pahami dari cerita-cerita masa kecil kita. Kita kaget melihat cara dunia bekerja setelah mengikuti rutinitas dalam tujuan menyeseuaikan diri dengan orang sekitar. 
Dunia tempat kita tinggal ini, bukan tempat yang menyediakan semuanya dalam cara instan. Tidak juga ada jaminan impian kita akan tercapai meski kita sudah mengupayakan yang terbaik menurut versi kita. Liburan-liburan ke tempat jauh yang pernah kita rencanakan, mungkin tidak akan mudah kita dapatkan meski kita sudah mati-matian bekerja hingga lembur. 

Kemudian di perjalanan sehari-hari, kita bertemu orang-orang. Orang-orang yang sekedar berlalu lalang atau yang singgah sebentar. Kenapa kubilang sebentar? Karena cepat atau lambat, mereka akan pergi lagi.  
Mereka akan membawa cerita-cerita baru di hidup kita, nasihat-nasihat yang mungkin sedang atau kelak akan kita butuhkan. Kita akan melihat mereka pergi berlalu mencari sesuatu yang mungkin tidak pernah kita tahu sebelumnya. Tapi dengan mengenal mereka, kita jadi tahu. 

Mereka akan mengajari kita tersenyum dengan baik. Mereka akan mengajari kita menangis tanpa suara. 

Dan kita, akan tetap mencoba mengerti dunia.
Kita akan tetap belajar mengerti dunia.
Pagi-pagi sekali saya terbangun, masih dengan alasan yang sama; mengira ada telfon dari kamu. Padahal hp saya sudah saya matikan sebelum tidur. 
Saya tidak begitu ingat apa mimpi saya tadi malam, tapi sepertinya ada kamu. 
Saya memutuskan untuk tidak tidur lagi meski waktu menunjukkan masih pukul 3 pagi. 
Saya takut, saat saya tertidur, kamu akan hadir di mimpi saya, akan sulit bagi saya memulai hari jika sudah sendu begitu. 
Saya memutuskan untuk merapikan kamar, membuka laptop, mencari film yang belum saya tonton. Hingga akhirnya matahari muncul, saya senang sekali. Setidaknya saya sudah tidak perlu berusaha menahan kantuk. 
Saya ingin berjalan-jalan sendiri hari ini, meski langit begitu cerah dan udara begitu panas. Saya tetap pergi. Saya butuh tempat ramai, saya butuh melihat banyak orang berlalu lalang. 
Di kereta yang tidak terlalu penuh dengan orang-orang ini, saya merasa kesedihan masih setia menggelayuti saya. Saya berdiri menghadap pintu, memandangi bangunan-bangunan yang kabur, pertama karena kereta melaju kencang, kedua karena saya merasa ada air yang berusaha tumpah dari mata saya. 
Pikiran membawa saya pada waktu-waktu yang sudah tidak ingin saya kunjungi lagi. 
Saya ingin melupakan rasa sakit ini. 
Saya ingin melupakan kenangan ini. 

Jawaban yang Belum Sempat Kamu Dengar (1)

Satu hari, kamu sempat bertanya
"Kenapa sih, Win, kepengen banget tinggal di luar negeri? Apa sih yang dikejar disana?"
Saat itu, aku sempat diam, sebelum akhirnya memberi jawaban "Ya, pengen aja.." kepadamu. Aku ingin memberi jawaban yang panjang, yang bisa meyakinkan dirimu bahwa alasanku sebenarnya sederhana, bukan alasan seperti "Ya karena luar negeri itu keren", bukan. Hanya saja, waktu itu kamu terdengar seperti merendahkan mimpiku, memandang bahwa mimpiku itu bukanlah suatu hal yang perlu diperjuangkan.
Dan ini jawaban yang sebenarnya ingin kusampaikan;
"Aku ingin tinggal di tempat yang tenteram, sepi, bersih, dan tidak berisik. Di tempat yang aku bisa berjalan kaki dan bersepeda tanpa takut diserempet kendaraan umum. Di tempat dimana aku bisa menghirup udara pagi yang segar, tidak perlu menggunakan masker saat pergi keluar rumah untuk menghindari polusi udara. Di tempat dimana aku bisa berkebun, menanam sayur, lalu memanennya untuk dimasak. Aku ingin tinggal di rumah dengan jendela besar yang mendapat cahaya matahari pagi ataupun sore. Aku ingin tinggal di desa kecil, dengan penduduk ramah dan saling kenal satu sama lain. Meski hanya sebentar, aku ingin merasakan kehidupan yang seperti itu."

Lalu mungkin kamu masih ingin bertanya, kenapa? Kenapa aku butuh hal seperti itu?

Maybe, it's because I'm a very unhappy person.

Kau, Bisa.


Kepada diri yang sedang resah, cobalah untuk tidak berharap apapun ketika memberi,
Tidak masalah jika percakapan panjangmu dibalas singkat,
Tidak apa jika orang-orang tidak antusias menyambut ceritamu,
Atau ketika perhatianmu dibalas pengabaian.

Jangan selalu menyalahkan dirimu atas cara orang lain bersikap padamu.
Tidak semua hal bisa kau kendalikan, termasuk cara bersikap dan berpikir orang di sekitarmu. Tetaplah berusaha ada untuk mereka yang kau anggap berhak untuk ditemani, tetaplah berbuat baik tanpa mengharap apapun. Sulit memang. Tapi, kau punya banyak pr yang harus kau perbaiki di dirimu. Tidak apa bersusah hati dulu saat ini, semoga kelak kau akan memiliki hati yang luas, yang jika dilukai sedikit, tidak akan membuatmu begitu terbebani.

random thought: Keputusan


"Ma, Fany pusing. Fany gak tau harus ambil keputusan apa. Mama aja yang mutusin buat Fany, ya?"

Kataku suatu hari kepada Mama setelah sadar bahwa di usia segini, banyak keputusan yang harus kuambil sendiri, keputusan yang harus dipikirkan matang-matang dan panjang-panjang. 
Dulu aku pernah merasa ingin rasanya cepat-cepat dewasa dan bisa punya kendali sendiri. Sekarang, huft…
Jadi orang dewasa itu gak seasik yang kubayangkan waktu masih sekolah dulu. Jadi orang dewasa itu gak melulu cuma tentang kebebasan. Jauh lebih besar dari itu, mendewasa adalah menempatkan diri pada pilihan-pilihan yang harus dipertanggung jawabkan, sendiri. 

Nanti-

Nanti, semua ini akan beranjak pergi. 
Aku tidak akan berdebar lagi ketika membaca pesanmu, atau gelisah menunggu balasanmu ketika aku tidak bisa membendung keinginanku memulai percakapan. 
Nanti, aku akan terbiasa mengunjungi tempat-tempat yang sering kita datangi, tanpa perlu menghela nafas berat dan bersusah payah menahan bening di mata.
Nanti, aku akan belajar untuk tidak menghindari pertanyaan orang-orang di sekitarku tentangmu, "Dia mana?", yang saat ini hanya sanggup aku balas dengan senyum tipis. 
Nanti, semua ini akan berakhir.

Seperti janji akan bahagia yang dulu pernah kau tawarkan untukku, kesedihan ini juga tidak akan abadi, kan? 

Cikini, September 2018

Akhir-akhir ini, aku jarang merasa cemas dengan hal-hal yang dulu sering kucemasin. Misal, pulang malem dan naik angkot sendiri, atau dibonceng naik motor sama driver gojek, naik pesawat, hape mati pas lagi diluar rumah. Beberapa saat ini, aku tidak begitu atau bahkan sama sekali tidak cemas saat dihadapkan dengan kondisi-kondisi diatas. 

Mungkin, kehilangan banyak semangat hidup bisa membuat cemas hilang juga. Sudah habis diriku diambil kesedihan, sehingga cemas tak punya tempat lagi. 

random thought: Packing

Sebenarnya mau dijudulin "Merantau" tulisan ini, tapi terlalu emosional kayaknya. Soalnya ini cuma ngebahas salah satu proses dalam merantau: packing. 

Beberapa hari terakhir, aku sibuk bongkar-muat koper sama barang-barang di Padang. Ini packing terakhir sebelum aku ninggalin Padang. Kemarin udah beberapa kali balik ke Medan sekalian nyicil barang bawaan. Karena ijazah udah keluar, jadi ya ini trip terakhir. Sigh. Syedih. 

Kenapa bongkar-muat? Karena gak semua barang bisa masuk koper. Aku harus menaruh prioritas pada setiap barang yang mau dimasukin ke koper. Keputusan suuuuliiiiit. Soalnya pas saat-saat kayak gini, semua barang tiba-tiba jadi penting, semua barang tiba-tiba punya nilai kenangan yang gak rela dilepas. 

Kalau dibandingin, packing saat pergi menuju perantauan dan balik dari perantauan, ribetnya sama. Walau mungkin emosi yang dirasain jauh beda. Dulu waktu mau merantau ke Padang, aku sampe bawa odol, sabun, shampo di koper. Snack-snack juga entah kenapa aku paksain masuk koper. Padahal ya, barang-barang kayak gitu juga ada di Padang. Sama juga saat aku mau ke Amerika, ini lebih ribet lagi. Segala saos dan sambal belacan kubawa. Plus indomie berbagai rasa. Takut banget kelaparan di negara orang. Meski ribet, tapi ketakutan untuk gak menemukan hal-hal yang jadi kebutuhan sehari-hari dengan mudah di awal-awal, menjadi alasan koperku selalu overweight kalau mau bepergian lama.

Setelah selesai merantau di satu tempat, packing untuk balik ini juga sulit. Dan lebih emosional. Waktu balik dari Amerika, lebih dari 75 persen bajuku kutinggal, yang kubawa adalah printilan barang lucu dan kenang-kenangan dari teman-teman, oh iya, karena aku orang Indonesia, gak lupa dong; oleh-oleh. Baju jadi barang yang paling sering aku korbankan untuk ngasih space ke hal-hal seperti diatas. 

Walaupun cuma 4 bulan di Amerika, tapi aku benar-benar pusing sama masalah packing waktu itu. Dan di Padang, aku menghabiskan waktu 5 tahun. Bisa terbayang kan gimana pusingnya kepalaku untuk memaksimalkan memori selama 5 tahun itu muat dalam beberapa koper. 

Tapi, aku baru menyadari satu hal, bahwa pada akhirnya, hal-hal yang paling ingin kubawa pulang, adalah hal-hal yang gak bisa kumasukin dalam koper. 

Padang, Agustus 2018

akhir-akhir ini, sulit sekali rasanya mengalihkan pikiran dari segala hal tentangmu. aku ke tempat ramai, dan terdetak ketika ada yang mirip denganmu, ada yang pakai baju mirip bajumu, ada yang berdiri seperti caramu berdiri, ada yang naik motor seperti motormu, ada yang pakai tas seperti tasmu.

kenapa semua hal tentangmu begitu pasaran. aku susah jadinya. 

random rant: kulit gelap gak perlu takut matahari

Jadi beberapa hari yang lalu aku upload foto tanganku yang berhasil aku ratakan warna kulitnya, dari yang awalnya belang karena bawa motor. Terus ada yang ngomen "udah gelap aja pun, ngapain takut matahari."

Sigh

Dari situlah aku mau buat tulisan yang lebih kelihatan sebagai omelan ini. Aku juga pernah, dan sering dapat komen-komen gak enak karena warna kulitku yang cenderung gelap ini. Dari yang 

"Ngapain pake ini itu, tetap itam juga nya." 

"Dirawatlah mukanya biar agak putih."

sampe kalo aku dekatin anak bayi yang kulitnya putih, akan selalu ada yang ngomen 

"Awas jangan dekat-dekat, nanti nempel itemnya."

Ya ya, emang selalu ada yang bakal bilang "Yaampun, itu kan cuma bercanda."

Heck. Gak bisa dinaikin dikit standar becandaanmu itu? Kita gak pernah tahu sejauh apa candaan yang gak pantas kayak gitu bakal ngefek di orang yang dibencadain. Dulu, aku sempat terpengaruh sama omongan-omongan kayak gitu. Apalagi kalo datangnya dari orang terdekat; keluarga atau teman. Aku pernah ngerasa bahwa warna kulitku ini adalah a shame. Aku pernah mematut diri di cermin dan berharap kulitku bisa lebih cerah. Aku pernah enggan menaruh lenganku diatas meja saat makan bersama  orang lain hanya karena aku tahu bahwa warna kulit lenganku kontras dengan mereka. Ya, aku pernah jadi manusia tidak bersyukur macam itu. 

Lalu aku memilih untuk menjauhi orang-orang dengan selera bercanda menyakitkan itu. Aku mulai banyak bertemu orang-orang yang kata-katanya lebih positif, yang tidak mudah mengomentari fisik orang-orang. Lalu cara pandangku sedikit demi sedikit berubah. Aku sudah mulai berpikir bahwa tidak apa-apa punya kulit dengan shade ini, aku mulai tidak melirik produk-produk pemutih kulit, dan yang cukup sulit, mengabaikan perkataan orang lain. 

Gak ada yang salah dengan kulit yang lebih gelap, membosankan gak sih kalau kulit orang terang semua? Skincare-skincare yang kupakai itu tidak bertujuan untuk membuat kulitku putih, itu untuk menjaga kesehatan kulit. Dan meski kulitku gelap, bukan berarti aku tidak perlu takut dengan matahari. Kulitku bisa perih dan rusak juga kalau tidak dilindungi dari jahatnya sinar uv itu. 


Banyak sekali hal yang ingin kuungkapkan padamu tapi lisanku mungkin tidak mampu membuatmu mengerti. Menuliskannya adalah salah satu caraku bertahan, caraku menyemangati diriku. Mungkin jika kelak kau kembali kesini, membaca tulisan-tulisan ini, kau bisa paham; aku masih amat sangat mencintaimu. 
Untuk hal-hal yang kita inginkan tapi masih belum dikasih Allah, coba kita lihat orang-orang di sekitar kita yang perjuangan mereka untuk hidup jauh lebih berat dari kita, tapi mereka tetap bertahan dan berjuang tanpa henti. 

Semoga itu bisa buat kita lebih bersyukur dan semangat. 

Aku sudah pernah merasakan kehilangan yang begitu luar biasa dalam hidup ini, ditinggalkan selamanya oleh seseorang yang sangat kucintai. Sembilan tahun mungkin sudah terlalu lama untukku sehingga aku hampir lupa bagaimana kosong dan hening paling sepi yang kurasa saat itu.

Terima kasih sudah pernah singgah dan mengingatkanku kembali, bahwa tidak ada yang benar-benar tinggal selamanya. 

Juli, 2018
Juli, 2017

Aku terkadang takut ketika melihat kamu marah, kamu tidak marah seperti orang-orang lain marah; berbicara keras dan kadang membentak. Kamu hanya cukup diam dengan pandangan yang sungguh tidak mengenakkan untuk ditatap. 

Tapi bagaimanapun, aku akan memilih tetap menerima marahmu, daripada tidak bisa menatap matamu lagi. Aku suka sekali matamu. 

September, 2017

Aku sulit sekali mengerti jalan pikiranmu ketika kamu cemburu, bahkan terkadang aku tidak menyukai caramu menunjukkan rasa cemburumu itu. Itu menyakitiku, juga. Bukankah sudah kubilang berkali-kali, tidak ada yang lain. Cuma kamu. 

Tapi, sesulit apapun rasanya menghadapimu, setidak suka apapun aku dengan sisi dirimu yang ini, aku akan tetap memilihmu, memilih rasa cemburumu itu, aku akan bertahan dengan semua itu. Lebih baik daripada tidak bisa disayangi olehmu lagi. 

"Most people don't want to hear this, but real relationships that last involve a lot of forgiveness. You have to accept the fact that your partner isn't perfect & will hurt you. You have to figure out if you're willing to go through ups & downs with them."

Terbiasa

Ini bukan tentang siapa yang lebih terluka, aku tahu kita sama-sama sedih atas apa yang telah terjadi. Juga bukan tentang siapa yang memberi keputusan dan siapa yang menerima. Bukan tentang itu. 

Ini tentang bagaimana kita akhirnya harus berjalan sendiri-sendiri, tanpa tahu apakah kita saling mendekati atau menjauhi. Ini tentang bagaimana aku ingin tetap membersamaimu dalam keadaan apapun dan kau ingin menenangkan dirimu sendiri. Ini tentang aku yang merasa harus  mulai mencoba menjalani semua ini tanpamu, mencoba untuk membiasakan diriku tanpamu. 

Mengobati Luka (3)

"Don't forget to eat a whole stack of Oreo!"

"I wish I could have that much appetite to swallow my favorite food."

"I've never had any experience with heartbreak before, and I know being okay is the last thing you can do. I just wanna simply say that whatever it is, it'll pass. If possible, don't deny the feeling. Cry out loud if that makes you feel better, listen to all heartbreaking songs out there over and over again until it doesn't hurt anymore, then take a long breathe, exhale all the disappointment. I promise it'll pass."

"I'm feeling okay right now. But I hope I'm not forcing myself. I hope I'm really okay."

"Like the poem said, it's not about being okay. It's okay not to be okay. Maybe one day, you'll thank God for this sadness, we never know. Maybe you'll appreciate every moment after this storm, we never know. I just hope you're not taking any blame for any of it."

Mengobati Luka (2)

"Sabar. Aku tahu rasanya ada di posisi seperti itu. Cepat-cepatlah sembuh, biar kita gak tertinggal sama yang lain. Aku yakin kamu bijak, bisa menaruh sedih pada tempatnya. Coba menata suasana dengan pergi ke tempat lain. Sendirian. Dan melakukan sholat lebih tepat waktu serta ditambah sholat yang lainnya. Rasanya aman sekali."

"Mungkin sekarang rasa sedihku adalah karena aku sedikit menyesal tidak mencoba mengubah sifat burukku lebih awal, aku seharusnya berjuang lebih kuat. Aku bertujuan untuk serius dengannya, karena itu aku menunjukkan sifat asliku, yang mungkin tidak kutunjukkan ke orang lain. Besar sekali harapku bahwa dia akan menerimaku."

"Pilihan kamu untuk jujur dan menunjukkan apa adanya sudah yang terbaik menurutku, kalau kita sudah jujur dan dia tidak bisa terima, ya sudah. Kita sudah coba perbaiki tapi dia nyerah berarti dia nggak mau bekerja sama dalam urusan mencintai. Cinta adalah pekerjaan yang harus dilakukan dua orang. Kalau toh dia memang cinta betul, dia pasti gak akan nyerah."

"....."

"Aku mengerti, kamu pasti sedih sekali. Kamu nangis aja dulu sendirian, nangis yang puas. Nanti selesai itu luangkan waktu buat diri kamu. Dengar lagu kesukaan, lakukan hal yang kamu suka, yang bisa buat kamu bahagia, Pergi ke tempat baru, coba menata hati lagi. Eh tapi catatan dariku yang sudah pernah merasakan patah hati, aku sudah mengunjungi banyak tempat dari kota sampai pelosok, tapi kadang masih keingat. Sampai pada akhirnya aku memilih untuk benar-benar sembuh baru bisa ikhlas. 
Semangat ya. "

Mengobati Luka (1)

"How to survive after a breakup?"

"Pergi kemanapun yang kau mau. Mungkin akan ada banyak hal yang gak mudah untuk dilalui, tapi, pegang mantra ini: sesedih apapun kita hari ini, semuanya pasti bakal berlalu dan berganti jadi kebahagiaan baru. Dan kesedihan hari ini adalah penguat bagi kita di masa depan."

"Aku pengen bisa nangis, bisa marah, bisa nyalahin keadaan, tapi sekarang aku gak bisa ngerasain apa-apa."

"Mungkin bener kata orang-orang, saat kita mencintai seseorang terlalu dalam, ketika dia pergi, separuh dari diri kita ikut pergi sama dia. Mungkin itu yang dinamakan capek hati. Gapapa, gak usah dipaksain, gausah dilawan.. Hang in there, kau pasti bisa melewatinya. Kau gak boleh nyerah terhadap keadaan apapun."

"kelak kau kan mejalani hidupmu sendiri, 
melukai kenangan yang tlah kita lalui
yang tersisa hanya aku sendiri di sini
kau akan terbang jauh menembus awan
memulai kisah baru tanpa diriku 

seandainya kau tau, ku tak ingin kau pergi
meninggalkan ku sendiri di sini bersama bayanganmu"

Seandainya - Vierra
I don't remember how I fell in love with you,

I just remember seeing your face and your smile, realizing how much it was going to hurt me when I would have to let it go

July, 2018


Rasanya, sudah lama sekali kita tidak menikmati waktu mengobrol di sebelah jendela kaca besar ini. Duduk di satu meja yang sama ditemani minuman favorit kita masing-masing. Sesekali mengomentari kota kelahiran kita yang bisa kita lihat dari balik jendela besar itu. Atau sambil berbicara serius tentang apa yang seharusnya kita lakukan untuk bisa membuat perasaan satu sama lain menjadi lebih baik. Favoritku, adalah waktu-waktu dimana aku bisa melihat kau tersenyum, apalagi tertawa. Aku rindu sekali suara tawamu.

Bolehkah aku menyalahkan waktu yang sudah membuat kita seperti ini? Kita yang dulu punya banyak alasan untuk kembali berbaikan setelah berdebat, kau yang selalu berusaha untuk membicarakan dan menyelesaikan masalah kita tanpa tunggu besok, lalu kita yang pernah sama-sama berjuang meski mungkin bagimu, hanya kau yang saat itu berjuang.

Aku sudah mencoba dan mencari cara untuk membuat kita menjadi tidak seasing sekarang ini, setelah keputusan kita untuk mencoba lagi memperbaiki apa-apa yang sudah pernah kita putuskan, aku tetap menjalani hari-hariku sebagai diriku yang dulu, dengan menghilangkan sedikit demi sedikit hal-hal yang tidak kau suka dariku. 
Aku masih antusias saat pertama kali akan melihatmu setelah berbulan-bulan lamanya, masih sama rasanya seperti saat kau mengunjungiku di Padang, atau saat liburan sebelumnya aku pulang ke Medan. Waktu-waktu dimana kita pertama kali melihat satu sama lain setelah berbulan-bulan lamanya. Tapi di liburan kemarin, aku tidak melihat antusias itu di matamu, dan di sikapmu.
Aku mencoba mengerti bahwa aku juga tidak bisa memaksamu.
Kau yang ingin cepat-cepat pergi. Dan aku yang masih ingin tinggal lebih lama.




"I'd go back to December, turn around and make it all right"
Aku sudah jatuh terlalu dalam pada caramu memperhatikan, pada lembutnya tutur katamu, pada dunia yang tidak banyak orang tahu tentangmu, pada cara berpikirmu yang sempat kusalahkan terus menerus.
Pada setiap kejadian di masa depan yang aku ingin ada dirimu disana, pada senyummu, pada tatapan matamu, pada percakapan kita setiap malam, pada waktu-waktu yang kita luangkan untuk sekedar bercanda-bertengkar-baikan-dan bercanda lagi.
Aku telah jatuh cinta begitu dalam, telah menerjunkan diriku dengan berani,

tapi sepertinya... aku terjun sendiri. 
 
Kamu ada di setiap sudut kota ini. Tidak menyisakan ruang sedikitpun untukku berdiam di satu tempat tanpa membayangkan kita yang pernah disana. 
Lampu, ombak, kafe, jendela kaca, bahkan hal umum seperti hujan pun memaksaku me-reka ulang segala hal tentang tawa, tangis, pembicaraan, serta diam kita yang pernah terjadi di sana.

Untuk setiap ingatanku yang begitu tajam tentang ini, bolehkah aku mendengar janjimu terlebih dahulu, kamu tidak akan tiba-tiba meninggalkanku, sebelum aku mengajakmu ke tempat-tempat lainnya, nanti? 

Padang, 22 April 2018
"Aku sudah biasa ditinggalkan."

Apakah kau berhak mengatakan kesedihan jika yang selama ini kau lakukan adalah membuatku sedih?
Apakah kau boleh menyalahkan aku yang akhirnya meninggalkan jika yang sedang kau lakukan sekarang adalah menepikanku?
Kita sibuk mengoreksi tingkah dan perkataan satu sama lain, tanpa ingin untuk sedikit melihat kedalam diri kita, 


kita hanya perlu menjadi baik dan peduli. 
"I think I'm lost."
"What? Why? Or how?"
"I've been trying so hard to be a person that I think would make someone stay with me, but along the way, I lost myself."
"Phew. Happens sometimes. But my advice, when you're lost, choose the path that makes you happy the most. You might want to go back to who you were or you might not.You should be happy, too. You deserve happiness."

31 Januari 2018

Januari sudah akan berakhir. Aku seharian ini sibuk menyalahkan diriku atas apa-apa yang belum bisa kucapai di bulan pertama tahun ini. Seperti biasa, orang lain adalah pembandingnya.
Tumpukan hal-hal yang seharusnya sudah kuselesaikan tahun lalu juga masih sering kukesampingkan atau kuabaikan. Banyak waktuku habis untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat kulakukan.
Lihatlah, kesibukan ku menyalahkan diri hari ini tidak berujung pada meningkatnya motivasi. Malah semakin malas, dan menjadikan keadaan kurang motivasi seperti ini sebagai pembenaran untuk bermain game berjam-jam. *sigh*

Bulan ini juga seperti kebalikan Januari tahun lalu.
Kalau tahun lalu aku memiliki banyak hal baru dan perasaan baru juga orang-orang baru,
Januari ini tenaga ku cukup banyak habis untuk mempertahankan apa-apa yang di tahun lalu sempat sengaja atau tanpa sengaja kuabaikan. Kata-kataku lebih banyak keluar untuk meyakinkan seseorang bahwa aku ingin dia tetap tinggal. Sehingga diamku seringkali menjadi jeda dari semua usahaku untuk menahan dia. Diamku seringkali adalah penyalahan dan penyesalan atas diriku yang terlalu lambat mengindera apa yang sebenarnya sangat berarti bagiku.

Januari yang bagi orang-orang adalah sebuah permulaan, bagiku terasa seperti sebuah akhir dari satu cerita yang tidak ingin kulihat. 

 How do you write a love letter to a place? To a time? To bittersweetness?