Tampilkan postingan dengan label MY UGRAD JOURNEY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MY UGRAD JOURNEY. Tampilkan semua postingan

First Goodbye


Aku sangat sadar bahwa akan selalu ada perpisahan untuk suatu perjumpaan. Dan hari ini, aku melambaikan lambaian selamat tinggal untuk pertama kalinya semenjak aku di Amerika.
Workshop di Washington DC telah usai. Malam itu, malam terakhir, adalah waktu yang paling emosional. Aku berusaha keras untuk tidak menangis. Well, aku tidak menangis untuk orang-orang yang baru kutemui, camku dalam hati.
Aku baru bertemu mereka 3 hari yang lalu.
Tapi, kenapa di hari terakhir ini, aku merasa bahwa ada bagian diriku di mereka. Aku melihat diriku di diri mereka.
Aku merasa aku punya banyak momen "me too!" dengan mereka.
Momen "me too!" ini begitu terasa di hari terakhir workshop. Ketika kami sama-sama menuliskan perasaan kami tentang beberapa hal.
Ini menyangkut kembalinya kami ke negara asal kami masing-masing.
Di ruangan itu, ditempeli beberapa kertas karton besar dengan judul di masing-masing bagian atasnya.
"How I see my community"
"Returning to school or work"
"Family and friends"
"My future goals and plans"
"My personal growth"


Slight Reminder

We've got an e-mail from World Learning today. It's the best e-mail of the week, they said. Because it came along with our tickets to Washington DC.
I was so excited for the first seconds, and it switched to a reminder that my stay in this country is coming to an end. Yes, this workshop that I'm gonna attend is labelled as "End of Program Workshop."
I have to get ready for leaving.
God, even just thinking of it has made my heart beats so fast. It's not a happy beat, btw.
It was, a nervous. A got-some-butterflies-on-my-stomach beat.

In the afternoon, I skyped with Lauren, one of my advisors. She asked me some necessary questions about my classes, comunity services, and other school stuffs. Before we ended the call, Lauren said:
"See you next week in DC, Winni.", in a cheerful way of saying.
Yes, Lauren, see you next week.
Let me put aside my thought of leaving and write some happy things that I should be thankful for.

I'm so looking forward to seeing Lauren, Roya, and all World Learning staffs in Washington DC. All the people behind this exchange program, they work so hard to make so many people's dreams come true. They make our journey in USA possible, they are, GEM.
At first, I thought that it would be so fun to be in their position, I mean, to have that kind of job. Well, yeah it is so fun, they work on diversity, on mutual understanding, on helping great youngsters to pursue their dreams. But it is not only about the fun. They work hard. Very hard. They arranged our schools, they reserved our tickets, they made sure that we catched up our connecting flight, they stayed awake when we were travelling to US, from our home countries. They made sure that we arrived in our university safely. We talked for several times during the semester, they cared about whether we enjoy the foods, the dorm, or having some good friends. Yeah. We owe them a lot.
They are so kind.
I would hug them so tight when I get to meet them. I will never forget about them.
No, they give me love, help, kindness, and a feeling of being so lucky to be able to meet them in my life.
Thank you for helping us, World Learning.

I learn a lot.

Seriously.

7 November 2016

Our Fear

Jum'at, 2 Desember 2016.

Tepat seminggu sebelum aku meninggalkan US. Aku tidak ada kuliah tiap hari Jum'at. Begitupun Honggyoung dan Tina, dua orang teman dekatku selama disini. 
Kebanyakan internasional student (terutama yang hanya exchange) memang sengaja tidak mengambil kelas hari Jum'at. 
Agar bisa jalan-jalan. Pikir kami. 
Tapi minggu ini, kami tidak ada rencana kemana-mana. Ini adalah weekend terakhirku di kampus. Aku ingin menghabiskannya hanya di kampus.
Aku bangkit dari tempat tidur sekitar pukul 9. Menelepon Honggyoung, menanyakan apakah dia mau sarapan bareng. Telepon ku yang membangunkannya, suaranya berat. Setelah itu, aku keluar kamar untuk mencuci muka. Sekalian mengetuk kamar Tina. Tina juga baru bangun ternyata. 
"Let's have breakfast in 15 minutes."
Dia mengangguk. 
Kukira dia akan meminta tambahan waktu. Untuk mandi dan sebagainya. 
15 menit kemudian, aku sudah berdiri diantara Tina dan Honggyoung, di depan asrama. Cuaca cukup dingin hari ini. Kulihat tadi subuh-subuh sekitar -2 derajat. 
Kami berhenti sejenak. Berdiri, melihat penampilan satu sama lain.
Tidak ada satupun dari kami yang mandi pagi itu, tidak pula ber make up. Kami hanya memakai pelembab bibir supaya bibir kami tidak pecah-pecah. Tina memakai topi nya, pertanda dia tidak ber-make up. Honggyoung masih jelas dengan muka bantalnya. Aku? Aku masih dengan piyama dan jilbab yang kusut.
Kami berjalan dengan pede menuju kafetaria.
Karena hari Jum'at dan masih terbilang pagi, kafetaria tidak terlalu ramai. Kami memilih tempat duduk di dekat jendela besar yang menghadap gedung perkuliahan. Tempat duduk favorit kami.

Setelah mengambil makanan, kami duduk. Tidak langsung mulai makan.
Tina memulai percakapan.
Dia berkata bahwa dia sedikit takut untuk balik ke Jepang, negaranya.
Kami tanya kenapa, dia jawab karena dia sudah kurang peduli dengan penampilannya. Dia sudah nyaman dengan muka bantal dan baju tidur kemana-mana. Sedangkan di negaranya, orang-orang "terlalu" peduli dengan penampilan orang lain.
Honggyoung langsung dengan semangat menimpali.
Dia merupakan satu dari sedikit orang Korea yang jarang ber-makeup.
Selama satu semester ini, mungkin aku bisa menghitung dengan jari sebelah tangan, berapa kali dia ber-makeup.
Tapi dia bilang, di negaranya, orang bahkan men-judge seseorang tidak sopan jika menunjukkan "bare face" atau muka polos tanpa makeup mereka ke orang lain.
Aku menghela napas.
Aku sendiri?
Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku menggosok baju. Aku sudah jarang menghabiskan waktu belasan menit untuk mematut diriku di cermin sambil berfikir "Ini jilbab sama baju cocok gak ya? Tabrak lari gak ya?"
Kami sudah nyaman dengan keadaan seperti ini.
Tidak ada yang akan mengomentari muka bantal kami, muka tanpa makeup kami, dan baju kusut kami.
Tidak ada yang akan menertawakan jika baju kami tidak matching atau apalah.
Tapi, jika kami menggunakan baju yang menarik, orang-orang tidak akan segan untuk memuji.
"Oh I love your outfit!"
"Your hijab is so beautiful!"
"What a nice shoes!"

Kami harus beradaptasi lagi.
Ke budaya dan tekanan sosial yang sudah kami jalani kurang lebih 20 tahun ini.
Meninggalkan 4 bulan yang banyak mengubah cara pandang dan cara berperilaku kami.
4 bulan dan 20 tahun.

Ini gak akan sulit, kan?

New York, New York...

One of my friends asked me, how did I love New York. Yes, I had been to the one of most wonderful cities in the world: New York.
I managed myself to spend 5 days and 4 nights in the city that never sleeps (people said).
I strolled around every corner of the streets and got nothing but excitement. The feeling that I had never felt before. I felt mesmerized.
I couldn't help myself not to always look up while walking down the streets to the midtown.
Every building has its own beauty.
Every place has its own story to tell. 

New York itu, ramai sekali.
Aku yang pertama kali di Amerika menginjakkan kaki di Tennessee, yang notabene adalah daerah pedesaan, merasa kaget ketika datang ke New York.
Ini seriusan masih di Amerika? Pikirku.
Jalanan ramai oleh turis, pedagang, serta New Yorkers yang baru pulang kerja dan jalan cepat-cepat. Tepat seperti yang di film-film itu.
Ketika ditanya apa yang paling kusuka dari New York, aku butuh waktu lama untuk menjawabnya. Pikiranku lompat-lompat diantara tempat-tempat dan atraksi-atraksi yang pernah aku kukunjungi di New York.
Lalu aku bingung.
Apa yang paling kusuka?
Aku melongo melihat betapa besarnya patung Lady Liberty, tercengang melihat gedung-gedung tinggi Manhattan dari kapal ferry yang membawa kami ke pulau tempatnya patung Liberty, aku menahan napas ketika mendongak ke Empire States Building (gedung tertinggi di New York), lalu aku merasa di planet lain ketika berdiri di tengah-tengah pusat kota New York yang penuh dengan layar itu... yes, Times Square.
Setiap sudut kota New York adalah hal-hal terbaik yang pernah kulihat. Merupakan tugas yang sulit kalau aku diharuskan mengurut satu sampai sekian untuk hal-hal yang kusuka di New York.
Semua punya porsi dan kesan masing-masing di hati dan pikiranku.
Bukan hanya kemegahan gedung-gedung yang membuat ku terkesima.
Seorang polisi yang membentang sajadahnya di pinggir jalan dan menyempatkan sholat disela-sela waktu kerjanya berhasil membuatku berhenti sejenak, menepi, memuhasabahi diriku, di tengah hiruk pikuk kota ini, di tengah kebahagian akan rejeki dari Allah yang membuat aku bisa menginjakkan kaki di Amerika, aku pun menahan air mata kemudian berlalu, melanjutkan perjalanan ku.
Seorang wanita dengan hijab yang bekerja di salah satu toko kue paling terkenal di New York.
Petugas subway yang rela naik turun tangga 3 lantai hanya untuk memastikan bahwa kami bisa naik subway yang benar.
Orang-orang asing mengucap "Assalamualaikum."
Perjalanan ku sendiri mengitari New York dari Uptown hingga Dowtnown. 
Anjing-anjing lucu yang entah kenapa banyak melihat ke arahku.
Pedagang-pedagang dari yang ramah sampai yang tidak bisa bahasa inggris di Chinatown.
Orang-orang dengan kaos bertuliskan "Free Hugs" di Times Square.
Aroma kopi setiap pagi.
Halal food trucks.
Musisi-musisi jalanan yang gak kalah keren sama One Direction.
Toko-toko barang ber-merk; Victoria Secret, GAP, H&M..
Toko pizza di tengah kota yang tidak kami sangka memiliki pizza yang luar biasa enak dan murah. 
Perpustakaan. 
Subway. Subway yang kencang dan berada di bawah tanah. Di bawah gedung-gedung pencakar langit itu. 
Berbagai macam orang dengan pekerjaannya masing-masing, jalan terburu-buru. 
Turis yang sibuk foto-foto.
Youtuber yang sibuk buat vlog. 
FOTOGRAFER YANG JUDES.
Gemerlap lampu yang menyilaukan tapi tidak membuat kami enggan memandangnya. 
Berlapis kehidupan dengan warna berbeda. 

Begitulah New York membekas di hatiku. 
Aku akan kembali, aku akan kesana lagi. 
Secepatnya.
 

Hobby Lobby

Selama tinggal di Amerika, aku selalu penasaran sama apa yang ada didalam toko-toko yang aku lewatin. Karena seringkali, penampakan depan toko itu biasa-biasa aja, gak ada istimewa-istimewa nya, tapi pas udah masuk ke dalam, WOAH, everything is so interesting. It happened when the first time I visited Walmart. Dari depan sih kayak department store biasa, pas udah masuk, I CAN STAY FOREVER IN THERE. Hehehehe.
Ada satu toko, yang aku tahu dari hasil nguping pembicaraan seseorang di bus. Waktu itu pas mau Halloween, orang-orang pada sibuk ngedekorasi kamar dan rumah mereka. Saat inilah aku dengar seseorang bilang kalau dia mau belanja ke Hobby Lobby. Hari, aku cuma ngeliat Hobby Lobby dari depan aja, again, biasa aja, kayak toko-toko perabot dan peralatan rumah tangga pada umumnya.
Pas weekend, aku jalan kesana sama Honggyoung.
HEOL! WOW!
Pertama masuk, aku sukses melongo, INI TOKO TUMBLR! Iyes! Ini toko yang bisa buat kamarmu kayak kamar-kamar di Tumblr ituuuuu!!! Mereka menyediakan perabotan rumah tangga yang lucu dan unyuuuuu!  Yang selama ini cumaa aku lihat di foto-foto Tumblr. Aku benar-benar senang dan gak bisa berhenti bilang "WOAAAH" selama disana. 

This is Halloween~

GORGEOUS!

Yes...

FINAL PROJECT

Mahasiswa S1 di Amerika gak diharuskan untuk nge-skripsi sebelum mereka wisuda. Mereka bisa wisuda kalo semua mata kuliah yang wajib diambil, udah lulus. Tapi, di setiap mata kuliah itu, kebanyakan bakalan ada final project. Final project inilah tempat mereka menerapkan apa yang udah dipelajari.
It's way much easier. Beban yang ditanggung untuk menerapkan ilmu satu semester juga lebih ringan kan daripada ilmu 8 semester. Dan, tenggang waktunya juga cuma 1 semester, gak seperti skripsi yang bisa menahun. Ada dua final project yang aku tahu, dan aku libatkan diriku didalamnya. Satu dari mata kuliah yang memang aku ambil semester ini, dan satu lagi bukan mata kuliah yang aku ambil. Mata kuliah ini udah aku ambil semester lalu di kampus, ada praktikumnya lagi. Yap, ini mata kuliah Tata Letak Fasilitas Pabrik (TLFP), mereka bilangnya disini "Layout". Aku gak ambil kelas ini, namun professor yang ngajar di kelas ini, aku kenal. Jadi final project untuk mata kuliah ini adalah mengunjungi Amazon Plant di Lebanon, salah satu plant terbesar di Tennessee (karena dekat sama Nashville International Airport), kunjungan itu bertujuan untuk melihat, mendeteksi, dan menganalisis masalah-masalah yang ada di plant Amazon ini. Dari kampus, Lebanon berjarak sekitar 1 jam 20 menit. Kami berangkat bareng-bareng, aku ditebengin sama Professor nya. Sampe disana, aku kaget karena Cuma aku cewek sendiri. Which means, di kelas itu, gak ada cewek, karena aku bukan mahasiswa di kelas. Aku Cuma pengen ikut tour nya aja. Selama tour, aku berkali-kali melongo, tercengang, sama gimana sibuknya mereka di plant Amazon itu. Mereka kerja 10 jam/hari. Basically, yang mereka lakukan adalah menerima barang dari vendor, ngebuka bungkusnya, ngebungkus barang tersebut dengan kotak Amazon, dan ngirim ke customer.
Mahasiswa yang emang ngambil mata kuliah ini, mereka nanya banyak hal, pertanyaan-pertanyaan yang strategis dan terkadang mindblowing. Aku nyimak aja :) Di ending, kami foto. Fotonya diambil pake kamera staff Amazon. Karena none of us yang bawa hape. Hape harus ditinggal diluar. Kedalam Cuma boleh bawa catatan.
And this is the picture:




Alright, itu final project mata kuliah Layout, yang aku gak ambil. Now, final project untuk kelas yang ku ambil. Computer Numerical Control. Mata kuliah lanjutan dari Otomasi Sistem Industri yang udah aku ambil setahun lalu di UNAND. Aku benar-benar beruntung bisa ambil kelas ini, meski kelas ini gak ada praktikumnya, tapi 90 persen belajarnya itu di Lab, yang menurutku, itu udah praktik. Hehe. Praktikumnya gak begadang-begadang nulis laporan sampe mabok, loh :) Ini jadi pelengkap mata kuliah yang kuambil di UNAND setahun yang lalu, mata kuliah ini sebenarnya cocok untuk di-praktikumkan, karena berhubungan sama kode-mengkode. Tapi, ya mungkin karena ini-itu, di kampusku Cuma kuliah di kelas aja.
Mata kuliah ini 3 SKS per minggu, tapi dihabisin dalam sekali pertemuan. Dari jam 9.10 sampe jam 12.50 siang. Keluar-keluar dari kelas sempoyongan kalo gak sarapan. Final project nya adalah ngerancang dan ngebuat satu produk dengan menggunakan CNC! Wah, waktu pertama kali dengar penjelasannya, aku ngeri-ngeri sedep. Bisa gak ya? But, untungnya, ini kerja kelompok! Jadi aku sekelompok sama 5 orang. Yehe, I'm the only girl.
Waktu pengerjaan final project ini sebulan. Kelompokku memutuskan untuk ngebuat pajangan peta USA dari acrylic, dan nambahin LED di sela-selanya. BELIEVE ME, IT LOOKS SO GREAT!
Tugas nya dibagi-bagi, ada yang ngerjain kode, desain gambar, buat laporan, buat power point. Tapi, kerja utamanya emang yang dua diawal itu, desain gambar sama kode. Untuk kode, kami pake fitur otomatis. Jadi lebih gampang. Kode kami terdiri dari kurang lebih 6000 baris. Siap dalam 2 jam. Tapi, pas mau di transfer ke mesinnya, gak mau jalan. WAH. Apa yang harus dilakukan sama 6000 baris ini. Aku pengen pulang aja ke Indonesia waktu itu, sangking peningnya hahaha (jangan ditiru ya..).
Tapi, Professor kami menemukan apa errornya, yap, itu, hal-hal sepele, program start flagnya gak kami buat. Program start flag itu sejenis kode untuk menunjukkan kalo program dimulai di baris berikutnya. Itu cuma berupa semicolon loh :") Aku selalu hadir saat diskusi kelompok ataupun dengan dosen. Namun kali ini, aku harus izin beberapa hari karena ada workshop di Washington DC. Tentu dong mereka ngizinin dan oke-oke aja. Tapi aku tetap minta mereka untuk ngabarin tentang progress apapun.
Jadilah malam itu, malam sebelum aku berangkat ke Washington DC, aku baru selesai packing, lagi bersihin make up, dan siap-siap buat tidur saat salah satu kawanku ngirim pesan bilang kalo mereka lagi motong materialnya. And it's looking good. Aku ngeliat jam, hampir jam 11 malam. Mereka tahu kalo aku tinggal di asrama kampus, yang memungkinkan aku bisa dengan gampang nyampe lab kalo kepleset kulit pisang.
Tapi masalahnya, aku takut jalan kesana sendirian. Aku juga gak mau ngerepotin kawanku minta anterin atau temenin. Memang gak jauh, tapi jalannya gelap, dan ngelewatin tempat-tempat parkir. Syerem.
Aku mencoba beralasan, kalo aku takut jalan sendiri, udah malam, dan gak ada teman.
Terus tiba-tiba dia bilang: "You are crazy! Hahahaha! This is safer than Indonesia, Dr. Fidan said."
Oh my goodness!!!!! Dr. Fidan itu dosen kami. Aku jadi gak enakan kalo dosenku udah tau gini. Akhirnya, aku langsung nelpon salah satu kawanku, dan minta dia temenin.  Luckily, dia belum tidur dan mau nemenin. Aku langsung ganti baju dan ngacir ke lab. Sesampainya di lab, semua teman-teman sekelompokku sudah ada disana, bersama Dr Fidan, dan 1 cewek yang aku belum pernah lihat sebelumnya. Jurusanku ccuma punya beberapa mahasiswa cewek, dan hampir semua aku udah pernah jumpa. Tapi yang ini aku belum pernah lihat. Aku basa-basi nanyain gimana kodenya bisa jalan, lalala lilili, terus aku ditawarin donat yang gedenya minta ampun. Aku makan donat sambil mantengin mesin CNC motong material kami. Indeed, it's looking good. Gak nyesal aku lari-lari kesini. Hahaha.
Aku suka sekali laboratorium ini. Lab manufacturing. Isinya mesin-mesin kayak bubut, gerinda, gergaji potong.
Saat itulah aku melihat refleksi mukaku disalah satu mesin, aku hampir nyampakin donat yang ada ditanganku. AKU LUPA KALO AKU BELUM NYELESAIKAN MAKE UP REMOVING!!!! Aaaaak. Dibawah mataku hitam, seperti udah gak tidur bertahun-tahun. Aku langsung ngeletakin donatku dan izin ke restroom. Hah, ini gara-gara aku tadi buru-buru, gak nengok kaca lagi sebelum pergi. Aku udah expert untuk make kerudung tanpa liat cermin, BTW! Hahaha.
Aku berhasil mengurangi shade hitam dibawah mataku dengan bermodalkan tisu dan air. Gak seluruhnya hilang, soalnya sisa maskara dan eyeline yang nemplok disitu waterproof. Tapi, better lah dari sebelumnya.
Aku kembali ke lab, ngobrol-ngobrol, 20 menit kemudian kami selesai. Aku terkagum-kagum sama hasilnya. Ini dia, dibuat dengan kurang lebih 6000 baris kode.

Setelah ambil foto dan bersihin lab, kami pun pulang. Aku puas dan bahagia. Meski di jalan pulang, aku kedinginan dan bibirku pecah-pecah (lupa pake pelembab). Aku nyampe asrama jam setengah satu. Udah gak ngantuk. Tapi besok pagi harus ready jam 6 buat ke bandara. Hell yeaaah. 

Cepat Saji

Dulu, aku kira makanan cepat saji itu cuma makanan-makanan di KFC, MCD, dan kawan-kawannya itu. Tapi ternyata, setelah aku disini, aku jadi dapat pandangan yang lebih luas tentang makanan cepat saji. Entah karena mereka terlalu sibuk atau gak ada waktu (apa bedanya), disini, banyak kali makanan cepat saji yang di jual di supermarket (terlepas dari restoran-restoran cepat saji yang beserak dimana-mana). Makanan cepat saji ini beragam, mulai dari frozen food (makanan yang dibekuin), sampe makanan kaleng, kotak, plastik, eh gak ding cuma kaleng sama kotak aja. 

Bagian forzen food jadi bagian yang paling aku suka di Walmart. Tiap ke Walmart, aku pasti bakalan ngabisin beberapa waktu di section ini, walaupun cuma liat-liat. Makanan-makanan yang dibekukan ini kayak ayam goreng, pizza, cake, cookies, dan lain-lain yang aku gak ingat.Kalo mau makan makanan ini, gampang, rata-rata sih tinggal di masukin microwave aja, dicampur bumbunya (kalo ada), tapi kebanyakan, cuma tinggal masukin microwave, set waktu, tunggu, selesai. 

Selain makanan beku, ada makanan kaleng. Kalo makanan kaleng ini ragamnya lebih banyak. Kebetulan aku volunteering di TTU Food Pantry, jadi aku sering ngurusin makanan-makanan kaleng gini. I'm enjoying this work karena aku selalu nemuin "jenis" makanan kaleng baru tiap aku kerja. 
"Yaampun, ini kok dikalengin." adalah ekspresi yang paling sering aku keluarkan kalo lagi kerja disana. HAHAHA. 
SO, I made some pictures: 
Ini wortel, udah dikupas, dipotong-potong lagi. 
Ini kalo yang mau sehat, mixed veggie. Don;t ask me how healthy is that. Tapi mempermudah gak sih, kalo mau makan berbagai macam sayur, gak perlu rempong-rempong ngupasin, nyuci, ngerebus, sama nambahin garamnya. 

 Dari namanya, mungkin kebayang lah ini apa ya, turkey (sejenis ayam), nasi, dan kayaknya sayuran, digabung jadi satu, nasi campur kali ya namanya. 

Semua makanan kaleng itu tinggal di microwave aja. 
Ada satu makanan kotak favoritku, tapi aku lupa ngambil fotonya. Mac n' Cheese. Itu kayak campuran macaroni dan keju gitu. Aku kira, aku harus beli keju, seasoning untuk ditambahin ke Mac n' Cheese ketika dimasak, TAPI, tetot, aku cuma perlu nambah air. Aduh, kerjaan jadi ibu rumah tangga bakalan lebih mudah kalo ada yang kek gini ya. Ups. 


TENTANG BEASISWA GLOBAL UGRAD

Let's talk about, MONEY!
Karena, aku akhir-akhir ini sering dapat pertanyaan "Itu beasiswanya nge-cover apa aja ya?" dari aplikan yang daftar beasiswa ini, atau dari orang-orang yang nanya "itu dibayarin jugaaa?", mengira bahwa aku jalan-jalan hedon di Amerika pake uang Mamak ku. No, of course :)
Jadi untuk itu, mari kita bahas ini!
Kalo dilihat dari judulnya, aku kayaknya mau bahas beasiswa ini secara umum. Ya gak?
Enggak. Aku udah banyak ngoceh panjang lebar di My UGRAD Journey, sampe ber seri-seri lagi, Kalah sinetron. 

Disini, aku mau bahas tentang beasiswa ini secara benefit. 
Beasiswa ini disponsori oleh Pemerintah Amerika, US Department of States. Gak usah dihitung berapa dana yang mereka keluarin untuk program ini tiap tahun. Pusing lah. 

1. PENDAFTARAN
Pendaftaran beasiswa ini online, jadi gak perlu ngirim berkas via pos. Bebas biaya pendaftaran. Paling bakal ngeluarin biaya untuk TOEFL, bagi yang belum pernah tes, atau sertifikatnya udah expired (TOEFL nya harus dilakukan dalam kurun waktu 2 tahun). Dan itu biayanya juga beragam, tergantung tes dimana. TOEFL-like atau prediction juga diterima kok, dan itu lumayan terjangkau. Kalau yang di daerah Padang, sekali tes di pusat bahasa UNAND itu bayar 35.000. Kalau ITI, 100.000. Bedanya, di ITI hasilnya langsung keluar setelah satu hari, kalau di pusat bahasa paling cepat 3 hari. Dan biasanya di pusat bahasa itu ngantri, rebutan tempat sama yang mau wisuda (TOEFL jadi salah satu syarat wisuda di UNAND).

2. Wawancara
Kalau kamu dapet e-mail untuk kepanggil wawancara, berarti kamu udah selangkah lebih jauh dari proses pendaftaran (YAEYALAH). Wawancaranya bakalan diadain di Jakarta. Tenang aja, tiket pesawat dibayarin. Bahkan juga dikasih uang untuk penginapan. Waktu jaman aku, yang dipanggil wawancara 18 orang. Wawancaranya dibagi 2. Hari pertama untuk Non-English Major, hari kedua untuk English Major. Kami gak jumpa satu sama lain (English dan Non-English). Menurut terka-terkaanku, wawancara ini dibagi dua supaya gak menyebabkan nervous berlebihan bagi anak-anak Non-English Major. Ini cuma terkaan penulis semata. 
Biasalah kan kalo kepo, nanya-nanya "Eh eh, kemaren TOEFL nya berapa?". 
Anak-anak Non-English Major mah TOEFL nya merata, 500 lebih dikit. Tapi, jangan coba-coba tanya TOEFL anak English Major. Mereka bakalan bilang "Aduh, jangan tanya itulah, TOEFL ku rendah." untuk kemudian diikuti angka 600. 
600 TJOY
E-NAM RA-TUS.

Ngalay Ilmiah

Yow!
'Sup folks~
Kami jalan-jalan ke Nashville kemarin. Kami ini adalah aku, Honggyoung, Abdul (teman sekelas kami), dan Fatimah (anaknya Abdul). Ini rencana sebenanrnya gak mendadak, kami udah ngerencanainnya dari 2 minggu yang lalu, tapi cuma sejenis "Nashville, yok." "Yok.." "Tanggal segini ya." "Oke".
Kami gak ada ngomongin mau ngapain, mau kemana. Bahkan sampe hari H, pas udah mau berangkat, baru mutusin mau ngunjungin apa.
Awalnya Abdul bilang dia gak bawa anaknya. Soalnya istrinya gak bisa ikut. Dia takut kerempongan sendiri. Tapi akhirnya, dia bawa juga Fatimah, mungkin karena Honggyoung pengen banget jumpa dan nge-gendong. Fatimah ini umur 3 tahun (kalo gak salah), lincah banget, dan ramah sama orang yang baru dia jumpa.
Mempertimbangkan Fatimah, Honggyoung nyaranin kami untuk ke Museum Sains di Nashville. Abdul langsung pasang GPS, kami meluncur~
Sampai di depan gerbang masuknya, kami baru mikir "Eh ini masuknya bayar? Berapa ya?"
We were supposed to pay $14, tapi dengan student ID, kami dapat diskon $1. Lumayan lah ya. Awalnya, aku mikir, "Yaaah, sayang kali, mahal kali."
Tapi, setelah 2 menit masuk ke museum nya, aku langsung lupa sama 13 dollar ku yang tadi. Aku langsung lari kesana kemari, nyobain semua hal-hal berbau ilmiah.
Kami siap untuk ngobrak-ngabrik museum ini!
 Di bagian depan, ada mobil ini, gak tau namanya apa, lupa nengok. Pokoknya ini, itulah, keren.


TOEFL LISTENING SECTION

Kalo ditanya apa yang biasanya bikin aku nervous dan stressed out disini, jawabannya adalah order makanan dan making a phone call to any call centre. It's really a serious thing for me. 
Orang-orang Tennessee itu punya aksen tersendiri. Selain mereka juga punya southern drawl, karena technically, Tennessee emang terletak di bagian selatan. By the way, southern drawl itu gaya bicara yang agak dipanjang-panjangkan intonasinya, it makes kata-kata yang mereka bilang itu susah dimengerti. dan mereka ngomong super cepat, semua kata-kata yang mereka bilang itu kayak nyatu semua. Gak ada spasi. Mereka juga suka nyingkat-nyingkat. Seperti:

You all: Y'all
I'm going to: Imma 
Out of: Outta
Dan lain-lain~

Dan ini, gak cuma aku yang ngalamin, temanku dari Thailand, katanya dia sampe ngabisin waktu 30 menit nelpon CS bank, gara-gara mereka sama-sama gak ngerti apa yang mereka katakan to each other. Kalo udah lelah, biasanya aku jawab "Yes" no matter what they said.
Aku gak pernah ngerasa selelah ini ngomong dalam bahasa inggris. Hahaha. 
I mean, it's really exhausting to pay attention to what people say, if you miss one word, you may miss the whole idea, kayak gitulah kira-kira. 
Kalau biasanya pake bahasa indonesia aku tahan bekombur berjam-jam, kalo pake bahasa inggris, setengah jam aku udah EXTREMELY exhausted. Pernah waktu itu, aku ngumpul sama host family aku, dan mereka ngundang teman-teman mereka dari gereja untuk datang. Kami masak, dan ngobrol bareng. Gak cuma harus ngomong full english dan harus dengerin full southern accent (tau lah ya, orang-orang yang lebih tua cenderung ngomong lebih cepat dan nyerempet-nyerempet tiap kata), I also had to deal with nama-nama berbagai bahan masakan yang mostly, baru pertama kali aku dengar. Well, ujung-ujungnya aku gak bantuin masak, tapi belajar nge-pronounce bumbu-bumbu masakan dengan benar.

Tapi, sesulit-sulitnya ngorder makanan, masih lebih sulit nelpon CS. Way more difficult. Karena kalo langsung, kita bisa lihat pergerakan mulut mereka, it helps lah. Tapi kalo nelpon, hah, kami bilang ini semacam TOEFL Listening Section. Harus benar-benar fokus. Ingat, miss one word might make you miss the whole world, eh salah, I mean the whole idea. 

So, CHEERS FOR HAVING EVERYDAY TOEFL LISTENING SECTION! 

Be Aware of The Flag

Setelah pulang dari fitness centre hari ini, aku dan temanku ngelihat ada rame-rame di gedung sebelah, yang tidak lain dan tidak bukan adalah lapangan basket. Penasaran, kami singgah. Mana tau ada kaos atau makanan gratis. 
Ternyata ada pertandingan. Tapi kayaknya bukan pertandingan besar. Soalnya yang nonton dikit. Paling cuma 30 an orang. Karena penasaran sama cheerleaders nya, kami memutuskan untuk nonton sebentar, setidaknya sampe pembukaan aja, sampe nengok mereka jejingkrakan salto-salto. Kami ambil tempat duduk di bagian atas. Biar gampang kalo mau keluar nanti. Kami duduk sekitar 5 menitan di bangku itu, ketika ada kakek-kakek bilang: "Hey this is my seat. And that is hers."
Padahal itu stadium masih 90% kosong, kenapa lah aku sama kawanku bisa duduk di tempat yang udah booked. Akhirnya kami pindah. Meninggalkan kakek dan nenek yang kayaknya lagi kasmaran gelombang 3. 
Kami tetap mencari tempat duduk di bagian atas. 
Sekitar 5 menit kemudian, pluit panjang bunyi, tanda pertandingan akan dimulai. Sebelumdimulai, mereka nyanyiin lagu kebangsaan mereka dulu. Sontak seisi stadion berdiri dan hormat ke bendera mereka. Sialnya, kami duduk pas dibawah bendera. Dan di daerah situ, cuma ada aku dan kawanku. Cuma kami berdua. Kami langsung kaget, dan sikut-sikutan,
"Kita mesti berdiri juga gak ini?"
"Kita mesti hormat juga?"
 
Serius itu awkward BANGET. 
Kebayang gimana begonya muka kami, pas tiba-tiba seisi stadion menghadap ke kami secara tidak langsung, secara langsung mereka ngadap bendera sih. Dan untuk beberapa saat, kami tetap duduk, dengan muka yang, you know, kaget. Tapi akhirnya kami berdiri juga. Temanku juga ikut hormat. Hormat nya gak kayak hormat upacara bendera pas SD dulu, mereka hormatnya letakin tangan di dada. 

Saat itu, satu-satunya yang pengen kulakukan adalah kabur. Atau menghilang. Andai aja aku punya jurus raib. 
 

HALLOWEEN 2016

BOO!
Facebook dan instagram udah penuh sama foto-foto hantu. Aku bukan gak mau jadi hantu. Mau aja, sayangnya lagi bokek. Dan jadi hantu itu gak sedikit modalnya. Aku coba cari-cari di google kostum low budget, dan jumpa ide ini di 9GAG. I love you 9GAG! Untuk kostum ini, cuma perlu uang 3 dollar, niat, dan napas. Yes, we were transforming ourself into GRAPES!
Kami belanja ke Walmart, dan ngembus balon ini di ruang belajar. Aku ngembus kurang lebih 25 balon. Alhamdulillah masih sehat sampe nulis postingan ini. Honggyoung lebih tangguh, dia ngembus 30 balon. Tapi katanya sekarang mulutnya sakit-sakit.

 

Strolling Around Cookeville Downtown

Udah hampir 3 bulan disini, aku baru sempat jalan-jalan ke pusat kota nya Cookeville. Ini pun dadakan. Gara-gara hari ini kami selesai lebih cepat di Senior Citizen Centre. Btw, kami jadi volunteer di Senior Citizen Centre nya Cookeville. Seru! Kami ngegaul sama oma-oma dan opa-opa. Berasa jadi muda (YAEYALAH). 
Hari ini gak banyak kerjaan, karena juga gak banyak kegiatan. 
Kami pulang 1 jam lebih cepat. Cuacanya lagi bagus, matahari cerah dan sejuk. Just so puerfect! 
Irma came up with the idea of going to downtown. Karena jarak dari kampus ke Senior Citizen Centre itu lumayan jauh, sayang aja kalo kami langsung pulang. Dan kebetulan, jalan ke kampus itu ngelewatin jalur ke downtown. Aku dan Irma nge rental sepeda dari kampus. Hem, sebenarnya gak rental juga sih, minjem lebih tepatnya, soalnya kami gak perlu bayar apa-apa.Sayang aja sepeda gratis gak dipake secara maksimal kan. Akhirnya kami memanjangkan kaki kami ke pusat kota Cookeville. Pusat kota Cookeville ini kecil. Kecil sangat. Paling cuma 2 blok. Kota Cookeville itu sendiri juga kecil, semua kotanya kalo dikelilingi sejam habis. 
Dari kemaren-kemaren sebenarnya pengen jalan-jalan ke downtown, tapi alesannya, "nanti ajalah, kan dekat.." "mending ke tempat yang jauh-jauh dulu..". Selain alasan-alasan itu, transportasi juga jadi masalah. Kawan-kawanku rata-rata gak pandai naik sepeda. Dan kalo naik transportasi umum itu, jenggotan nunggunya. Busnya lewat cuma sejam sekali.  

Di downtown Cookeville, ada toko-toko barang antik, butik-butik yang harga bajunya bisa ngabisin jajan sebulan, ada toko eskrim yang namanya Ice Cream City. Kami berhenti di satu toko yang dekorasinya cantik dan kayaknya jual hal-hal berbau Tennessee dan TTU (Tennessee Tech University). 



"When I first saw you, I didn't expect your name would be Winni. I expected something like Muhammad or Abdul,"   

"Those are the names for male, just so you know."     

"Oh...."

With taxes and everything, it's gonna be....

Semua orang harus bayar pajak disini. Meskipun kita gak kerja, dan bukan warga negara sini, tetap aja ikut bayar pajak. Karena pajak is everywhere. Ini jadi salah satu culture shock (gak parah-parah kali sih emang), karena kami juga harus bayar tax untuk belanja di supermarket. Sampo, odol gigi, baju, semua dikenakan pajak. Dan menurut taxfoundation.org, state tempat aku tinggal, Tennessee, punya pajak paling tinggi di seluruh US. Sudahlah, habis untuk bayar pajak ajalah uang jajanku ini.  Hahaha. 

Kata salah satu temanku yang udah pernah jalan-jalan ke Eropa, waktu itu, dia ngumpulin semua bon belanjaan dia di Eropa. Pas dia mau balik ke negaranya, dia dapat refund di bandara. Atas semua tax yang dia bayar. But that's in Europe, gak tau disini gimana. I would end up bringing 1 suitcase full of receipts kalo kayak gitu nanti. And most of them would be foods' receipt.

BLOOPERS CHOCOLATE!

Best day of the week!
Hari ini, host Mom nya Honggyoung Eonnie ngajak kami ke Russell Stover shop. 
Russell Stover itu salah satu cokelat yang bisa dibilang mahal, berkualitas, dan enak. Kata Honggyoung sih, aku gak tau banyak tentang cokelat ini. 
Apa yang bikin kami tertarik buat datang ke toko ini? Terutama aku, yang lagi bokek berat. Ialah diskon 50% yang mereka punya. 



Travelling Partners

When it comes to a great place, US has a lot of it.
Every state has their own impression.
Kalau pas lagi musim gugur kayak gini, biasanya tempat-tempat yang ramai itu kaya Florida, atau California, yang banyak pantainya. Intinya, ke tempat yang lebih warmer.
Tapi, aku dan 2 orang teman ku memutuskan untuk pergi ke New York, yang notabene lebih dingin dari Tennessee.
Mereka adalah Lee Honggyoung dari Korea Selatan, dan Limara dari Kazakhstan.
I'm glad to have them on my journey.
Mereka udah pernah jalan-jalan ke Eropa, while aku baru menginjakkan kaki di luar negeri pertama kali.
Mereka udah terbiasa sama beberapa hal kayak how to pack your 5 days life in one backpack (karena airline cuma ngasih 2 carry on baggages, kalo mau lebih, bayar lagi.)
Aku belajar banyak dari mereka. Mungkin cerita tentang mereka akan aku tulis di postingan terpisah. I'll definitely write a post about them!
Dan, yah, mereka juga tukang selfie, dan foto. Just like me. Just too perfect to be my partners. Hence, we took a lot of pictures.
Here you go!



 

Pictures of New York

Times Square

M&M World

Entrance to Central Park

Central Park


Central Park

The Plaza Hotel (appeared in Home Alone 2)

Manhattan

Saying Goodbye to Summer, Welcome Fall =D

Hampir di semua toko, outfit-outfit summer diobral murah. Aku jumpa sendal cantik di Payless harganya 5 dollar! Pas aku lagi lihat-lihat, salah satu temanku nyamperin.
"Winni, winter is coming up, why do you look at it?"
"Well, I don't have winter on my country. So, I can buy it and use it to my country."
"That's good, then."

Jadih, bagian favoritku di toko-toko perbelanjaan sekarang adalah Summer Section. Because almost gak ada orang yang bakalan beli sesuatu yang berbau summer disaat suhu mulai mendingin kayak gini. 

Yep, it's getting colder in here. Pendingin ruangan juga kayaknya udah di stel jadi sedikit hangat. Tapi, buatku, tetep aja masih kayak kutub utara. Biasanya, aku jarang belajar di kamar. Kalo terpaksa belajar di kamar, aku bakalan ke toilet every 15 minutes, buat ngebasuh tangan pake air super hangat. Kaki juga kadang-kadang. Kalo mandi, jangan ditanya, aku lupa kapan terakhir kali aku mandi pake air dingin. Mungkin pas di Indonesia. Mandi pake air hangat jadi salah satu hal baru yang paling aku suka. Soalnya bisa sedikit ngilangin pegel-pegel, dan gak perlu rempong masak-masak air di panci terus masukin ke ember, campur air dingin sambil di rasa-rasa, kira-kira udah cukup gak ya. Kalo salah nakar aja, atau kelebihan 1 gayung air dingin aja, gagal nikmatin air hangat (ini pengalaman di Indonesia banged).
Disini, kalo mau mandi air hangat tinggal puter keran aja. Dan itu, bikin nyaman banget, terutama di suhu yang mulai dingin kayak gini. Meski ada artikel yang bilang kalo sebaiknya sehabis mandi air hangat harus diakhiri pake air dingin, supaya pori-pori kulit gak terbuka (dan bisa menyebabkan jerawatan). Bodo amat lah, mending jerawatan daripada kedinginan. 

Beberapa hari yang lalu, saat suhu Cookeville turun drastis, aku kena kejutan listrik pas megang gagang pintu. Aku gak ingat apa teori nya, kayaknya itu berhubungan sama Fisika. Ya gak sih? 
Dan itu, lumayan sakit. 

I LOVE YOUR....

Kebebasan berekspresi memang benar-benar ada di negara ini.
Hal tersebut bukan cuma dalam lingkup "politik" saja, tapi dalam kehidupan sehari-hari.
Sejak perkuliahan dimulai, dan mahasiswa asli sini udah mulai tinggal di asrama (mahasiswa internasional check-in lebih dulu ketimbang mahasiswa US), aku sering mendapatkan kata-kata:
"Oh I love your outfit."
"You look nice with that pajamas."
Padahal, kami belum kenal satu sama lain.
Merupakan hal yang biasa bagi mereka untuk mengekspresikan kesukaan mereka terhadap apa yang ada di sekitar mereka. Pernah suatu pagi, di jalan ke kelas, ada yang bilang gini samaku:
"I love your hijab.", aku berhenti mau bilang makasih, tapi dia udah ngeloyor pergi. Dia bilang itu sambil jalan, jalan super cepat ala orang-orang barat.
Satu lagi yang paling aku ingat, waktu aku ngantri di Whichwich, aku bosan dan ngelihat sekeliling, tiba-tiba ada cewek di belakang ku langsung kaget dan bilang:
"I'm sorry."
"For what?", aku bingung.
"I was staring at your backpack, and then you suddenly turn around. I like your backpack, it's so cute."
HAHAHA! Aku bahkan gak tau kalo dia ngeliatin tasku.

Yah, begitulah.
Karena kebebasan itu, kadang-kadang mulutku juga gatel pengen komen sama orang-orang yang lewat. Karena, ini Amerika, banyak sekali hal-hal yang baru bagiku, yang buat aku penasaran, atau setidaknya pengen komen: WAAAH, KEREN!
Tapi, karena aku gak (atau belum) terbiasa sama itu, jadi ya aku kebanyakan diem aja.
But seriously, banyak sekali hal yang sebenarnya commentable, kayak pas masih musim panas, banyak orang yang jogging sore-sore, mereka biasanya pake outfit yang keren-keren, ya, cuma sport bra sama celana pendek sih. Tapi warna dan motifnya itu loh, lucu-lucu. Aku gak bisa ngebayangin diriku komen : waaah, sportbra nya kereeeen. Atau: warna rambutnya cantik, di cat pake apa?

Anyway, you can't judge people by their appearance in here. You shouldn't.
Karena aku baru jumpa satu cewek pagi ini, dia pake tindik di kuping sama hidung, makeup pol-polan, rambut warna pink, tapi bawa ransel gede dan nenteng buku setebal bantal yang judulnya: ARTIFICIAL INTELLIGENCE.  

I can feel it, I'm in US university life.

 How do you write a love letter to a place? To a time? To bittersweetness?