Tuhan menciptakan kita dengan 1 mulut dan 2 telinga itu, maksudnya supaya kita lebih banyak mendengar daripada berceloteh.
Aku cenderung menganggap diriku ini pendengar yang budiman. Entah sudah berapa lama, dan aku mulai muak.
Rasanya itu, sakit sekali saat kita mulai berbicara, menggebu-gebu pulak, dan direspon dengan flat. Datar.
Aku jadi pengen terjun ke Ngarai Sianok.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
How do you write a love letter to a place? To a time? To bittersweetness?
-
Udah hampir 3 bulan disini, aku baru sempat jalan-jalan ke pusat kota nya Cookeville. Ini pun dadakan. Gara-gara hari ini kami selesai lebi...
-
Yap! It's been a week. Time flies sooo fast. Di hari pertama kemarin, aku dibantu banyak sekali sama Shanriya (mudah-mudahan namany...
-
Human can't be perfect in remember all things that happened in every single day. That's why we need a camera.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar